{"id":231,"date":"2020-02-20T03:55:38","date_gmt":"2020-02-20T03:55:38","guid":{"rendered":"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/?p=231"},"modified":"2020-02-20T03:55:38","modified_gmt":"2020-02-20T03:55:38","slug":"mengelola-kreativitas-menciptakan-inovasi-menuju-indonesia-maju","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/2020\/02\/20\/mengelola-kreativitas-menciptakan-inovasi-menuju-indonesia-maju\/","title":{"rendered":"Mengelola Kreativitas, Menciptakan Inovasi, Menuju Indonesia Maju"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 23 Oktober 2019 yang lalu, Bapak Presiden\nJoko Widodo (Jokowi) mengumumkan dan melantik 34 Menteri dan 4 Pejabat\nSetingkat Menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Ada 3 wajah baru menteri yang menarik dan\nlangsung menjadi bahan perbincangan publik. Ketiganya masih terbilang muda dan\nberasal dari CEO, atau <em>founder<\/em>\nperusahaan. Pertama, Nadiem Makarim yang merupakan CEO Gojek, kedua Erick Tohir\nyang merupakan pendiri dan CEO Mahaka Grup, dan ketiga Wishnutama yang adalah\nCEO NetTV. Nadiem Makarim merupakan menteri yang paling sering diperbincangkan\nsaat ini karena ia mewakili generasi milenial yang akrab dengan teknologi\ndigital. Ia dianggap \u201cbelum cukup umur\u201d, belum matang untuk mengatasi bidang\nyang diampunya yaitu pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Keputusan Presiden\nJokowi kali ini memang terbilang baru dan berbeda. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/tes.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-233\" \/><figcaption> Dari kiri ke kanan: Nadiem Makarim, Whisnutama, dan Erick Tohir (sumber foto: BBCNews) <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebagai CEO Gojek, Nadiem telah berhasil menunjukkan cara memanfaatkan dunia digital (IoT) sebagai teknologi yang menghubungkan tukang ojek, ribuan usaha makanan-minuman, jasa pembersih, jasa membeli tiket bioskop tanpa harus antre,&nbsp; bahkan jasa dokter hingga tukang pijat; untuk langsung mendatangi pelanggan\/penggunanya. Wishnutama juga dikenal dengan program-program baru di NetTV yang lantas diminati oleh generasi muda, serta Erick Tohir yang juga terbilang muda dalam mengelola bisnisnya. Mereka adalah <em>entrepreneur-entrepreneur<\/em> muda yang mewakili generasinya. Dari ketiga menteri baru yang masih terbilang muda ini, yang paling banyak menuai reaksi pro dan kontra adalah Bos Gojek yaitu Nadiem Makarim. Beberapa kekhawatiran yang muncul di  antaranya adalah karena Nadiem tidak paham lika-liku ke-ASN-an, tidak  tahu cara berkomunikasi dengan aparat pemerintah, dan bahwa yang  dihadapinya saat ini bukanlah perusahaan semata.  <\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Jokowi menegaskan kembali keputusan tersebut, melalui\nakun media sosial pribadinya. Pada tanggal 6 November 2019 beliau mengatakan: \u201c<em>Manajemen besar pendidikan di tanah air\nharus dikelola dengan teknologi tanpa menggeser tujuan pendidikan kita yaitu\nmembangun karakter dan jati diri bangsa. Kita butuh figur yang berani mendobrak\nrutinitas monoton untuk menghasilkan lompatan kemajuan dalam pendidikan<\/em>.\u201d Bapak\nPresiden yakin bahwa Nadiem Makarim adalah figur yang tepat untuk melakukan\nperubahan, seorang <em>entrepreneur<\/em> dari\ngenerasi milenial yang akan menciptakan terobosan dalam pendidikan dan\nkebudayaan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ekonomi kreatif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan\nide-ide barunya ketika membentuk Kabinet Indonesia Maju, bukanlah sesuatu yang\nmengherankan. Era Reformasi di Indonesia telah dimulai sejak pertengahan 1998\nyang memunculkan iklim \u201ckebebasan\u201d untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu yang\nbaru. Negara-negara lain di Asia seperti India, Korea, dan Cina, telah lebih dulu\nberhasil melakukan terobosan baru dan tumbuh menjadi negara yang kuat dari segi\nekonomi dan teknologi. <em>Korean Wave<\/em>\nyang muncul di awal 2000-an misalnya, menunjukkan keseriusan pemerintahan Korea\nSelatan dalam mengelola industri berbasis kreativitas di sana, yaitu musik dan\nsinema. Perhatian penuh bukan hanya ditunjukkan pada bagaimana mengelola budaya\nlokal ke tataran\nglobal, namun juga sekaligus mengubah sistem pendidikan di Korea Selatan, di\nmana Bahasa Inggris adalah pelajaran mutlak yang harus dikuasai siswa sejak\ntingkat Sekolah Dasar. Di India percepatan di bidang teknologi komputer dan nuklir sudah terjadi. Pemerintah Cina\npun tak main-main mendukung pertumbuhan manufaktur dengan mengutamakan riset\ndan teknologi serta kebijakan <em>free trade\nzone<\/em> (FTZ). Negara Cina saat ini, menjadi salah satu negara adikuasa di\ndunia. <\/p>\n\n\n\n<p>Kreativitas\ntelah menjadi basis ekonomi dan industri masa kini. Kreativitas merupakan\nkemampuan dan pengetahuan dalam bentuk aset tidak berwujud (<em>intangible asset<\/em>) yang terbukti dapat\nmenghasilkan produk dan jasa yang unik, bernilai, dan bermakna. Kreativitas\ndipandang esensial bagi pertumbuhan sosial dan ekonomi (Florida, R., and\nGoodnight, J., 2005). Pada level individu, tim, maupun organisasi, kreativitas\ndipandang sebagai kemampuan inti (<em>core\ncapability<\/em>) dan kontributor bagi kinerja kewirausahaan, pertumbuhan, dan\ndaya saing. <\/p>\n\n\n\n<p>Istilah ekonomi kreatif diperkenalkan pertama kali oleh\nJohn Howkins (2001) dalam bukunya \u201c<em>The\nCreative Economy: How People Making Money from Ideas<\/em>\u201d. Ide dasarnya adalah\nkreativitas sebagai basis ekonomi yang baru, menjadi penggerak utama\npertumbuhan ekonomi global. Ekonomi kreatif mengandalkan ide, gagasan-gagasan,\nyang terus-menerus dipikirkan dan kemudian dilakukan (<em>thinking and doing<\/em>). Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan\nsesuatu yang baru. Suatu produksi ide dan penemuan-penemuan yang bersifat\npersonal, orisinal, dan bermakna. Kreativitas mewujud menjadi produk dan jasa\nyang memiliki nilai ekonomi. <\/p>\n\n\n\n<p>Kreativitas dapat terjadi dalam sebuah tim yang di dalamnya terdiri dari\nindividu-individu yang berperan penting dan memberikan kontribusinya.\nOrisinalitas sebagai unsur yang penting, bisa dilihat dari dua sisi: pertama,\nmembuat sesuatu yang betul-betul baru (<em>from\nnothing to something<\/em>); dan yang kedua, mengerjakan ulang sesuatu yang sudah\nada dengan memberikan nilai tambah yang baru (<em>reworking of something that already exist<\/em>, or <em>giving character to something<\/em>). Sejalan dengan ide kreativitas\ndalam tim atau kelompok ini, Richard\nFlorida (2002) melontarkan ide tentang pentingnya kelas kreatif. Ia menawarkan\ngagasan baru tentang tiga komponen utama yang harus ada dalam sebuah\narea\/wilayah, yaitu 3T: (i)<em> Talent, <\/em>(ii)<em> Tolerance, <\/em>dan (iii) <em>Technology<\/em>. Florida menjelaskan bahwa\nkeberadaan talenta-talenta yang berpendidikan di suatu wilayah akan menjadi faktor\nkekuatan terbesar karena interelasi antara mereka dalam proses penciptaan\nnilai. Selain dari itu, kultur keterbukaan-<em>diversity<\/em>-inklusivitas,\nserta penggunaan teknologi menjadi kekuatan berikutnya<em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ilmu manajemen,\nkreativitas didefinisikan dalam dua cara, yang pertama sebagai sebuah proses,\ndan yang kedua sebagai sebuah hasil. Jika ingin menghasilkan <em>outcome<\/em> yang kreatif, penting sekali bagi\nseorang individu untuk terlibat dalam proses-proses kognitif dan perilaku,\nmisalnya mengaitkan ide-ide berbagai sumber dan pencarian yang luas, yang dapat\nmenolong dan memampukan individu tersebut untuk lebih kreatif dalam\npekerjaannya. Sedangkan dalam literatur organisasi, kreativitas dipandang\nsebagai kondisi penting namun tidak cukup bagi munculnya inovasi. <\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan penting dan\nmendasar antara kreativitas&nbsp; dan inovasi\nadalah, fokus kreativitas ditekankan pada penciptaan sesuatu yang baru dan\nbermanfaat, sementara inovasi menekankan implementasi dari ide-ide dan prosedur\nyang baru diciptakan tersebut. Peter F. Drucker\n(2005) menawarkan ide sumber-sumber inovasi dalam sebuah organisasi, yang\nberasal dari dalam organisasi (internal) dan dari luar organisasi (eksternal).\nDrucker berpendapat bahwa <em>entrepreneurship<\/em>\nadalah kesiapan terhadap perubahan, bisa berimajinasi mengenai dampak yang\ndihasilkan, mampu berpikir secara kreatif dan sistematis, serta mengolah data\ndengan logis. Dalam konteks ini, inovasi adalah kemampuan menerapkan\nkreativitas untuk mencari solusi atas masalah dan menemukan peluang (<em>doing new things<\/em>). Seseorang tidak perlu pengalaman\npuluhan tahun untuk menjadi kreatif, namun ada kemungkinan pekerjaan yang\nsangat kompleks akan membuat seseorang menjadi kreatif. <\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang kreatif\nbiasanya memiliki pola pikir divergen, meskipun pada praktiknya kondisi dapat\nmengharuskan pola pikir konvergen dan beberapa situasi mengharuskan hadirnya\nkedua pola berpikir, divergen sekaligus konvergen. Jelaslah sekarang mengapa\nBapak Presiden Jokowi melihat potensi dalam diri Nadiem Makarim, Wishnutama,\ndan Erick Tohir. Mereka adalah apa yang disebut dengan kelas kreatif, yang\nterdiri dari individu-individu bertalenta, dapat menggunakan teknologi\ninformasi-digital dengan baik, serta dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Sebelas\ntahun berlalu sejak era reformasi memberikan iklim kebebasan baru di Indonesia,\nnamun, meskipun pemerintahan silih-berganti, mengapa belum ada atau belum\nbanyak terobosan baru dan solusi kreatif dalam pembangunan di Indonesia? Mengapa\npendidikan di negara Indonesia masih menjadi masalah yang utama? <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Paradoks kreativitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kreativitas\nmenjadi sebuah area riset yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Secara\nhistoris, kreativitas berakar di dalam bidang psikologi yang menjadi fondasi\nkonseptual dan empiris, yang berfokus pada faktor-faktor yang meningkatkan atau\nmenghambat kreativitas di bidang-bidang yang berbeda (Amabile, 1996). Kreativitas\njuga memiliki sifat menuntut hadirnya situasi yang bersifat \u201cbebas\u201d, tidak\ndibatasi, dan fleksibilitas tinggi &#8211; karenanya harus didukung sumber daya yang\nmemadai. Dalam bisnis, kreativitas diletakkan pada posisi yang harus bisa\ndilihat dan dikendalikan dan dipantau. Ini adalah situasi yang disebut\nparadoks. Paradoks digambarkan sebagai situasi dilematis, polaritas, dan\nbersaingnya nilai-nilai atau kontradiksi, yang seolah menghilangkan apa yang\ndisebut normal. <\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/tes2-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-235\" \/><figcaption>Gambar 1. Yin dan Yang<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Filosofi paradoks tertuang dalam manajemen dualitas yang berakar pada\nkonsep \u201cYin-Yang\u201d dalam filosofi Cina klasik, seperti ditunjukkan di gambar 1. Filosofi\nini berasal dari dua buku tua Cina yaitu <em>I\nCing <\/em>dan <em>Tao De Ching<\/em>. Filosofi\ntersebut didasarkan pada premis bahwa segala sesuatu di dunia mengandung dua\nelemen bertentangan, yang terpisah, berlawanan dan saling melengkapi. Simbol \u201cYin-Yang\u201d berfungsi sebagai pengingat bahwa paradoks\nitu sesungguhnya saling terkait dan saling tergantung. Sering juga simbol\n\u201cYin-Yang\u201d dipandang sebagai penunjuk kesatuan dalam kebertentangan atau\nkeberlawanan, keseimbangan, dan kesetimbangan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, ketika sebuah bisnis menghadapi paradoks antara\nbertransformasi untuk masa depan sekaligus mengamankan posisi pasar hari ini,\nkepemimpinan menghadapi perubahan itu memerlukan keterampilan baru.\nKebangkrutan tingkat tinggi beberapa perusahaan seperti <em>Blockbuster Video<\/em> dan <em>Borders\nBookstore<\/em>, menggarisbawahi bahwa ekonomi yang lambat memberi hanya sedikit\nruang bagi model bisnis yang sudah ketinggalan. Contoh perusahaan-perusahaan\nyang gagal ini memberi pelajaran, karena tak sanggup beradaptasi dengan laju\npesaing-pesaing digital seperti<em> Amazon<\/em>,<em> Google<\/em>,<em> Netflix<\/em>, dan sebagainya, perusahaan-perusahaan tersebut hancur di\ntahap awal. Abad digital bergerak pada fase yang sangat cepat, dan mengubah pemenang\nmenjadi pihak yang kalah (Leslie, J.B., et al., 2011; Smith, W.K. &amp; Lewis,\nM., 2011).&nbsp;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/tes2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-234\" \/><figcaption>Gambar 2. Situasi Paradoksal dalam Proses Kreatif (Sumber: Hill, L., et al., 2010, 2014)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Paradoks bisa jadi sulit dimengerti dan\ndijelaskan. Mengelola paradoks berarti membangun pola pikir&nbsp; di luar (mengatasi) logika. Memahami paradoks\nakan memudahkan organisasi untuk mengatasi dan mengelolanya untuk kinerja yang\nlebih baik. Setelah mempelajari kegagalan mengeksekusi kreativitas untuk memajukan\ninovasi organisasi, Linda Hill dan kawan-kawan (2014) mengidentifikasi inti\ndari kesulitannya. Tegangan fundamental yang disebut paradoks, melekat pada\nperan pemimpin. Untuk lebih memahami paradoks sentral dari \u201cmelepas\u201d dan\n\u201cmemadukan\u201d ini, Linda Hill dan kawan-kawan &nbsp;memecahnya menjadi enam paradoks dalam\norganisasi, seperti diilustrasikan di gambar 2.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemimpin\nyang cenderung di posisi \u201c<em>harness<\/em>\u201d cenderung\nmembatasi atau bahkan meniadakan kreativitas karyawannya, ia tidak akan pernah\nsempurna melepas \u201ckejeniusan\u201d karyawannya; sementara yang ada pada sisi \u201c<em>unleash<\/em>\u201d akan senantiasa berhadapan\ndengan kekacauan dan tidak pernah menyelesaikan masalah bagi kebaikan bersama.\nSituasi ini tidaklah mudah, khususnya bagi yang terbiasa dengan gaya <em>top-down<\/em>, yang memandang konflik dan\nkehilangan kontrol itu sebagai situasi yang tidak menyenangkan. Bahkan\npemimpin-pemimpin yang mumpuni pun menyadari betapa sulitnya mendukung sisi\nyang satu dari paradoks tersebut tanpa mengabaikan sisi yang lain. Ilustrasi\ntersebut menggambarkan ada tugas baru bagi para pemimpin, yaitu senantiasa\nmenciptakan iklim kerja baru, memberi \u201cruang\u201d untuk berkreasi bagi karyawannya,\nsambil terus mendefinisikan ulang kebutuhan organisasi serta memodifikasi-menyesuaikan\ndengan perilaku karyawannya. <\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Entrepreneurship<\/em><\/strong><strong>: mengelola kreativitas, me<\/strong><strong>ncipta<\/strong><strong>kan solusi-terobosan Baru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Istilah <em>entrepreneurship<\/em>\nmula-mula muncul di akhir abad 17, ketika seorang ekonom Irlandia-Perancis\nRichard Cantillon dan kawannya Adam Smith, mengkaji peran \u201c<em>entrepreneur<\/em>\u201d dalam mengeksploitasi sumber daya demi\nmemaksimalisasi keuntungan finansial dari sebuah usaha, sebelum konsumen\/pengguna\nmemikirkan akan membayar berapa untuk produk-jasa yang ia konsumsi. Ini adalah\nbagian dari mikroekonomi yang menjadi fondasi ekonomi klasik. Istilah \u201c<em>entreprene<\/em>\u201d (1775) diterjemahkan sebagai\n\u201cwirausaha\u201d yang merujuk pada pekerjaan atau usaha yang dimiliki seseorang (<em>self-employment<\/em>)\ndan kemampuannya mengambil risiko. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Joseph Schumpeter (1883-1950) menggunakan pendekatan yang\nberbeda dalam mengkaji <em>entrepreneurship<\/em>,\nia lebih menekankan pada pentingnya disrupsi dan peran inovasi. Ia mengkritik\npasar bebas yang bergejolak di abad ke-19 dan kapitalisme yang berperan dalam\npemutusan hubungan kerja. Schumpeter memperkenalkan istilah \u201c<em>creative destruction<\/em>\u201d atau penghancuran\nkreatif, bagaimana mengenali kebaikan yang berasal dari kekacauan. Seiring\nwaktu, masyarakat akhirnya mengakui bahwa kehilangan pekerjaan, perusahaan yang\nhancur, dan industri yang hilang adalah bagian inheren dari kemajuan. Seperti\nungkapan \u201cb<em>lessing in disguise<\/em>\u201d ada\nrasa sakit yang melekat pada keuntungan yang muncul sesudah penderitaan.\nMisalnya, ada produk-produk baru dengan lebih baik, minggu kerja yang lebih\nsingkat, pekerjaan lebih baik, dan standar hidup makin meningkat. Inilah\npengertian baru yang dilekatkan pada makna <em>entrepreneurship\n<\/em>masa kini, yaitu paradoks \u201cmerusak-menghancurkan\u201d dan kemudian\n\u201cmerakit-membangun\u201d sesuatu yang baru untuk kemajuan. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Entrepreneurship<\/em> yang diterjemahkan sebagai \u201ckewirausahaan\u201d saat ini sebenarnya memiliki\nmakna yang lebih dalam daripada berwirausaha (memiliki bisnis atau usaha), atau\nbahkan \u201cwiraswasta\u201d. Di dalam jiwa seorang <em>entrepreneur<\/em> terkandung\nkarakteristik \u201cpencipta\u201d (<em>creator<\/em>), yaitu kemampuan untuk menciptakan\nterobosan-terobosan baru, kemampuan untuk \u201cmenghancurkan secara kreatif\u201d dan\nkemudian \u201cmerakit-membangun\u201d sesuatu yang baru dalam bentuk penggunaan\nteknologi baru, cara pikir dan cara kerja baru. Pengertian <em>entrepreneurship<\/em> tidak hanya diterapkan pada bidang ekonomi saja,\nnamun juga bidang-bidang lain semisal tata-kelola pemerintahan, kebudayaan, dan\nsebagainya.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pembelajaran dalam sistem pendidikan di era kreativitas\ndan digitalisasi, kini menghadapi tantangan dan kesulitan yang belum pernah ada\nsebelumnya. Pemanfaatan perangkat digital dalam dunia pendidikan hanyalah satu\ncara untuk mengantisipasi masa depan dunia kerja seiring kemajuan informasi\ndigital itu. Sebuah penelitian terkini tentang cara belajar mahasiswa di era\ndigital, menemukan bahwa: (1) mahasiswa milenial ternyata tidak lagi terlatih\nmembaca, seakan menjauh dari karakter \u201cmasyarakat pembaca\u201d, (2) generasi milenial\nseakan mempercayakan serta menyerahkan kemampuan intelektualitas mereka kepada\n\u201cMbah Google\u201d sebagai <em>the god of\nknowledge,<\/em> (3) muncul gejala fragmentaris di dunia intelektual mahasiswa,\nyakni menyerap informasi sepotong-sepotong tetapi tidak bisa mengaitkan\npotongan-potongan tersebut menjadi gambaran tentang <em>being <\/em>dan <em>meaning<\/em> yang\nutuh (Sugiharto, I.B., et al., 2019).<\/p>\n\n\n\n<p>Dunia pembelajaran siswa kini rawan menjadi objek\nalgoritma, para peserta pembelajaran terjebak dalam awan bit-bit data (<em>data cloud<\/em>) yang begitu besar. Seperti\nterjerat di jaring laba-laba, di satu sisi \u201cmembatasi\u201d gerakan-gerakan kita,\nnamun pada saat yang sama, di sisi lain dapat \u201cmenularkan goncangan\u201d kecil yang\nkita buat ke berbagai destinasi yang (sangat) luas dan mendunia. Contohnya gerakan\n#<em>MeToo<\/em> oleh kaum perempuan yang\nmengalami pelecehan seksual di seluruh dunia, dan gerakan #<em>ArabSpring<\/em> sebuah revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di\ndunia Arab. Di satu sisi, komponen fragmentaris itu dapat menumpulkan \u201cdaya\nkritis\u201d para mahasiswa, sehingga mereka bahkan bisa menjadi \u201c<em>illiterate<\/em>\u201d (tidak bisa membaca\ninformasi dengan baik). Daya kritis, sebagai bagian dari intelektualitas yang\ntipis atau minim akibat tak terlatih membaca buku yang akhirnya membuat ketidaksanggupan\nmenyaring dan memilah informasi yang datang menyerbu setiap detik dalam\nkehidupan mereka (Harari, Y.N., 2018). Namun di sisi lain, generasi saat ini\nbisa jadi sangat cerdas karena menguasai teknologi informasi dan dapat\nmemanfaatkannya dengan baik. Contohnya, Mark Zuckerberg yang mengikuti\npendahulunya, Bill Gates dan Jeff Bezos.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini merupakan kondisi yang lebih kompleks dibanding\nsebelumnya. \u201cKetidakpastian\u201d dan \u201cperubahan\u201d adalah variabel yang tetap dan pasti\nterjadi dalam dunia saat ini. Kemungkinan besar bidang-bidang ilmu&nbsp; yang dipelajari oleh peserta didik saat ini akan\nmenjadi<em> irrelevan, <\/em>di tahun-tahun\nyang akan datang<em>. <\/em>Lalu apa yang harus\ndiajarkan oleh dunia pendidikan? Banyak ahli pedagogi berpendapat bahwa dunia\nkampus harus mengajarkan \u201c<em>four-C<\/em>\u2019: <em>Critical thinking, Communication,\nCollaboration and Creativity<\/em>. Dalam kondisi seperti ini, dunia pendidikan\ndituntut untuk melahirkan terobosan-terobosan baru, sebuah <em>entrepreneurship<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Para siswa sebenarnya membutuhkan kemampuan untuk lebih dari sekadar memahamiinformasi, memilah mana perbedaan\nantara info yang penting dan mana yang tak penting. Mereka tetap memerlukan\nbimbingan dan arahan untuk mampu memadukan bit-bit informasi ke dalam sebuah\ngambaran yang lebih luas atau koheren. Kemampuan yang juga mendesak adalah\nmengembangkan fleksibilitas untuk berhadapan dengan perubahan,&nbsp; kemampuan untuk belajar hal-hal baru, dan\nkemampuan untuk menjaga \u201ckeseimbangan mental\u201d di dalam situasi-situasi yang\ntidak <em>familiar<\/em> atau tidak stabil. Orientasi\npendidikan tidak lagi fokus pada menemukan ide-ide dan produk\/jasa baru, namun\nyang lebih krusial dari semuanya itu pendidikan harus memampukan para mahasiswa\nmenemukan diri mereka sendiri lagi dan lagi<em>.\n<\/em>Orientasi ini memunculkan pentingnya kebaruan dalam kebudayaan yang disebut\n<em>culturepreneurship.<\/em> Sebuah terobosan\ndalam cara pandang, cara pikir, serta keterampilan baru untuk menyiapkan para pembelajar menghadapi dan menyesuaikan diri dengan transformasi-perubahan\ndi era ini, tanpa kehilangan nilai-nilai keutamaan dan esensi menjadi manusia (Sugiharto, I.B.,\net al., 2019). <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Amabile, T.M., 1996, <em>Creativity in Context<\/em>,\nBoulder, CO: Westview. <\/p>\n\n\n\n<p>Drucker, P.F., 2005, Innovation and\nEntrepreneurship: Practice and Principles, Reprinted by Butterworth-Heinemann\nPublications, Elsevior, UK.<\/p>\n\n\n\n<p>Florida, R., 2002, <em>The Rise of the Creative\nClass and How Its Transforming Work, Leisure, Community, and Everyday Life<\/em>. New York.<\/p>\n\n\n\n<p>Florida R., and Goodnight, J., 2005, Managing For\nCreativity, <em>Harvard Business Review<\/em>,\nJuly-August Issue.<\/p>\n\n\n\n<p>Harari, Y.N.,\n2018, <em>21 Lessons for The 21<sup>st<\/sup>\nCentury<\/em>, Penguin Random House, UK.<\/p>\n\n\n\n<p>Hill, L., et al., 2010, Collective Genius, <em>Harvard Business Review<\/em>, June Issue.<\/p>\n\n\n\n<p>Hill, L., et al., 2014, The Inescapable Paradox of\nManaging Creativity, <em>Harvard Business\nReview<\/em>, December Issue.<\/p>\n\n\n\n<p>Howkins, J., 2001, <em>The Creative Economy: How People Make Money\nfrom Ideas,<\/em> Penguin Books, London.<\/p>\n\n\n\n<p>Leslie, J.B., 2011, <em>The Benchmarks Sourcebook: Three Decades of\nRelated Research<\/em>, Greensboro, NC: Centre for Creative Leadership.<\/p>\n\n\n\n<p>Smith, W.K., and Lewis, M., 2011,\nToward a Theory of Paradox: A Dynamic Equilibrium Model of Organizing, <em>The Academy of Management Review<\/em>, Vol.36\nNo.2.<\/p>\n\n\n\n<p>Schumpeter, J., 1942, <em>Capitalism,\nSocialism, and Democracy<\/em>, New York: Harper &amp; Bros. <\/p>\n\n\n\n<p>Sugiharto, I.B., Purwadi, Y.S., dan Manurung, E.M., 2019, Desain Proses\nPembelajaran Mahasiswa di Era Digital, Laporan Penelitian Multidisiplin untuk\nLembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Katolik\nParahyangan, Bandung.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dr. Elvy Maria Manurung<\/strong>, Dosen Fakultas Ekonomi\nUnpar. Anggota CHUDS (<em>Center for Human\nDevelopment and Social Justice<\/em>) dan Go-Cir (<em>Gerakan oentoek Citarum River<\/em>) Unpar. Aktif mengajar dan meneliti\ndi bidang <em>entrepreneurship,\nculturepreneurship,<\/em> manajemen kreativitas, dan manajemen keuangan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Pada tanggal 23 Oktober 2019 yang lalu, Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dan melantik 34 Menteri dan 4 Pejabat Setingkat Menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Ada 3 wajah baru menteri yang menarik dan langsung menjadi bahan perbincangan publik. Ketiganya masih terbilang muda dan berasal dari CEO, atau founder perusahaan. Pertama, Nadiem Makarim yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":233,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/231"}],"collection":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=231"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/231\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}