{"id":258,"date":"2020-02-21T09:08:15","date_gmt":"2020-02-21T09:08:15","guid":{"rendered":"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/?p=258"},"modified":"2020-02-21T09:08:15","modified_gmt":"2020-02-21T09:08:15","slug":"oikos-nomos-logos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/2020\/02\/21\/oikos-nomos-logos\/","title":{"rendered":"Oikos, Nomos, Logos"},"content":{"rendered":"\n<p>Mungkin jarang disadari, bahwa yang membedakan ekonomi dari ekologi, atau sebaliknya, adalah akhirannya. Mengapa \u2013<em>nomos<\/em>? Mengapa \u2013<em>logos<\/em>? Bahkan sebelum itu, keduanya menginduk pada <em>oikos<\/em> (\u201crumah tangga\u201d) yang sama: bumi tempat tinggal kita. Immanuel Kant (1720-1804) mengatakan, \u201cPikiran \u2026 harus mendekati alam supaya diajar olehnya\u201d. Aturan maupun konsep dari manusia harus <em>belajar<\/em> dari realitas yang kita tinggali ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Pada\nMulanya adalah \u2018Menemukan\u2019<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bubuk kopi yang kita seduh dengan\nair panas, adalah ujung sebuah perjalanan panjang yang mengagumkan. Siapakah\nmanusia pertama yang menemukan tanaman kopi, hingga berpikir bahwa bijinya\ndapat dikupas atau dijemur sekaligus dengan kulitnya, lalu dicuci dan\ndisangrai, digiling dan diseduh dengan air panas, menyebarkan aroma wangi yang\nmenenangkan, dan diminum dengan nikmat? Sepertinya tak ada yang bisa menjawab\npertanyaan ini. Bagaimanakah awalnya, sehingga kopi bisa memunculkan karakter <em>fruity<\/em>, <em>bold<\/em>, <em>creamy<\/em>, <em>black-tea<\/em>, dan sebagainya itu? Rahasia\nbumi kita memang dahsyat sampai-sampai kita ingin menyerukan bahwa kekayaan\nseperti itu harus dilindungi. Kekayaan dan inspirasi dari bumi masih akan\nterus-menerus ditemukan, seandainya saja manusia tidak serba ingin mengatur dan\nmendominasi segala-galanya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-260\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Lebih daripada kesabaran ketika berhadapan dengan alam, diperlukan rasa hormat dan kebijaksanaan dalam berelasi dengannya. Manusia purba menemukan. Pada waktu itu, rasa hormat terhadap alam masih begitu tinggi. Alam adalah sosok Tuhan yang menyediakan kehidupan, maka dihargai, bahkan ditakuti. Tidak ada keinginan untuk \u2018mengatur\u2019 alam, sebab siapakah yang lebih berkuasa daripadanya? Ungkapan \u201calam murka\u201d hanya terdengar ibarat puisi yang lekas diabaikan di zaman kini, tetapi dahulu, ketika rasa hormat masih tinggi, alam itu memang penuh dengan kuasa. <\/p>\n\n\n\n<p>Seperti sebuah mutiara besar yang\nsangat indah di dasar lautan, alam menunggu untuk ditemukan oleh manusia. Ia\nmenunggu dan menunggu, sampai suatu saat seorang anak manusia menemukannya dan\nmembelalakkan mata tanda takjub. Apakah pengalaman menemukan seperti itu\nmembuktikan bahwa manusia adalah jenius? Jelas tidak. <em>Wong<\/em> hanya menemukan kok jenius! Tetapi, sekali lagi, itu\nmembuktikan bahwa kekayaan bumi ini sungguh-sungguh dahsyat. Kreativitas adalah\n<em>milik <\/em>semesta, dan di balik itu\nadalah <em>copyright<\/em> Sang Penciptanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita ingin bicara tentang\nkreativitas, tapi sekaligus mau melepaskan diri dari alam, atau tepatnya, ingin\nmerasa diri lebih superior ketimbang alam. Kalau alam itu adalah tempat tinggal\nkita \u2013 rumah tangga kita \u2013 berarti kita lupa bahwa pada dasarnya kita hanya\nmenemukan apa yang sudah selalu ada <em>di\nsana<\/em>. Di mana? Di dalam dunia. Celakanya, apa yang sifatnya menemukan terlanjur\ndipandang primitif. Memakan apa yang disediakan oleh kebun dan hutan dianggap\ntidak kreatif. Makanan kita semakin tidak natural setiap hari, karena gengsi\nmanusia itu luar biasa tingginya. Mereka yang memakan hasil bumi dengan\nsesedikit mungkin diolah dianggap orang aneh yang hidup dalam idealismenya sendiri.\nKetika merasa tidak mau kalah dari alam, kita mulai menciptakan kultur dan\naturan. Tata alami yang ada sejak dunia tercipta mesti diganti, karena kurang\nekonomis.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Lalu Manusia \u2018Mencipta\u2019<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Aturan (<em>nomos<\/em>) maupun konsep dan sistem pemikiran (<em>logos<\/em>) sebenarnya tak jauh berbeda, intensinya. Kemenangan Filsafat\nModern ialah pada <em>the grand narrative<\/em>\natau Kisah Besar yang dimaklumkan oleh metafisika. Tidak puas dengan apa yang\nnatural maupun fisikal, dasar seluruh keberadaan diabstraksi hingga ke tingkat\npemikiran yang entah-untuk-apa-semuanya-itu. Singkatnya, aturan dan konsep\nadalah kuasa-mencipta manusia yang, sebenarnya, tidak bisa cepat-cepat\ndisamakan dengan kreativitas. Kreativitas mengandaikan suatu kebebasan,\nsedangkan ketika masuk ke dalam dan tunduk pada sistem tertentu, bagaimana prosesnya\nhendak disebut \u2018bebas\u2019? <\/p>\n\n\n\n<p>Mencipta versi manusia, bukan alam,\nialah sebuah <em>kesepakatan<\/em>. Dari\nistilah-istilah yang kita ucapkan tanpa berpikir pun sudah ada kesepakatan\nsetidak-tidaknya dari bahasa yang kita pergunakan. Sebelum menciptakan aturan,\nteori, dan model, kita membutuhkan kesepakatan. Kita membutuhkan komunitas\nbidang ilmu, untuk bisa berbicara secara masuk akal, dan supaya mereka yang\nmendengarkan paparan kita bisa mengangguk-angguk dan bertepuk tangan. Semuanya\nada <em>di dalam<\/em> kesepakatan metafisik\nyang sudah diabstraksi oleh manusia sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di sini, kalau begitu, apakah\nkita menciptakan sesuatu yang baru, hebat, dan berguna untuk kehidupan bersama?\nMungkin ya. Akan tetapi, penciptaan atau kreativitas macam itu sifatnya\nkultural, karena tidak mungkin terjadi di luar sistem dan di luar kesepakatan\numat manusia. Ada nada pesimis dalam pernyataan terakhir ini. Benar. Pesimisme\nyang seperti ini agak lama dihindari komunitas ilmuwan, karena mendemotivasi\natau melemahkan semangat. Namun, kalau mau menemukan sisi lain aturan dan\nkonsep kehidupan atau kesejahteraan bersama, orang perlu diinterupsi dari\ndalam. Kreativitas kita tidak pernah akan sehebat kreativitas alam. Kita\nmencipta selalu di dalam sebuah kesepakatan komunitas, dan hanya bermakna atau\nhebat di dalam komunitas manusia. Kenyataannya, realitas itu bukan hanya\nmanusia, berarti seharusnya kegunaan, efisiensi, dan kesejahteraan berlaku dan\ndialami oleh semua penghuni bumi. Kalau mencoba masuk ke dalam bidang ilmu\nmasing-masing, kita dapat merefleksikan sendiri, dengan lebih jujur, apakah\nkultur, prosedur, dan konsep yang kita kreasi itu \u2018harus\u2019 diterapkan pada\nseluruh ciptaan di dunia ini. Sekarang pun kita sudah tahu jawabannya: tidak\nharus. Kreativitas kita tampaknya harus \u2018dibatasi\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Diundang untuk \u2018Bekerja Sama\u2019<\/em><\/strong><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana kalau kreativitas <em>dikembalikan<\/em> pada seluruh realitas, yang\ndi dalamnya kita termasuk? Bagaimana kalau, seperti disinggung oleh Kant, rasio\n(pikiran) kita mendekati dunia dan realitas itu supaya <em>diajar<\/em> olehnya? Implikasi gerakan semacam itu ialah keterbukaan\nuntuk <em>bekerja sama<\/em> dengan kenyataan,\ndengan alam tempat tinggal kita ini. Kerja sama membutuhkan <em>penyesuaian<\/em>. Tanaman bisa dengan cara\nyang luar biasa menyesuaikan diri dengan pembangunan trotoar yang menutup\nsebagian ruang bagi akarnya. Kalau begitu, konsep dan aturan yang kita buat\natas nama ekonomi kreatif maupun rasio filosofis mesti bisa menyesuaikan diri\njuga dengan hak hidup realitas selain manusia di sekitar kita. Sekali lagi kita\nadalah bagian dari realitas. Martin Heidegger juga sampai pada permenungan\nbahwa manusia sesungguhnya tak pernah berjarak terhadap realitas. Mungkin tidak\n(perlu) ada dikotomi subjek-objek lagi. Manusia tidak hanya mencipta kultur,\nsebab ia pun <em>adalah<\/em> natur. Realitas,\ndunia dan kita, hanya satu.<\/p>\n\n\n\n<p>Rumah tangga dalam istilah <em>oikos<\/em> mengandaikan kehidupan bersama.\nKebersamaan di dalam realitas yang sama hanya akan berlangsung langgeng kalau\nada kerja sama yang kreatif. Interdisiplineritas berbunyi lagi di sini. Tidak\nperlu ada <em>a priori<\/em> di antara manusia\nserta di antara manusia dan alam, sebab intensi setiap penemuan ataupun\npenciptaan diarahkan pada kesejahteraan baik manusia maupun alam. Dalam sejarah\nilmu pengetahuan, setiap penemuan adalah penciptaan-bersama antara manusia dan\n\u201cyang lain\u201d, yang bukan manusia. <\/p>\n\n\n\n<p>Apakah kita masih bisa disebut kreatif, setelah beberapa permenungan di atas? Bisa, dan terutama ketika kreativitas itu tetap memuat fleksibilitas, yakni keterbukaan untuk menyesuaikan diri, menyesuaikan aturan ekonomis, konsep filosofis, dan teori-teori ilmiah pada hak-berada seluruh realitas. Kita tidak perlu menindas apa pun atau siapa pun demi mengejar pengakuan publik atas pencapaian kita masing-masing. Ketika temuan-temuan kita \u201cmendapatkan tempat\u201d di masyarakat dan di bumi tempat tinggal kita ini, kita tahu bahwa itulah <em>kreativitas yang didukung oleh realitas<\/em>. Karena ekonomi adalah kesepakatan dalam pengaturan rumah tangga, kreativitas yang diupayakan dalam pengembangannya bersifat terbatas. Pengertian ini tidak serta-merta membuat kita tidak bebas, sebab mungkin justru membebaskan berkat terbukanya kesempatan untuk bekerja sama dengan lingkungan tempat tinggal kita. Bisa jadi kita justru akan lebih kreatif lagi manakala berusaha untuk lebih fleksibel, berani menyesuaikan diri dengan realitas yang sebelum kita ada, sudah punya tatanan yang sangat kokoh. Kalau selama ini metodologi yang kita gunakan dalam pengembangan model-model perekonomian belum berdialog dengan \u201ctetangga sebelah\u201d, kita bisa membiasakannya mulai sekarang. Niscaya, kita tidak usah berlelah-lelah menyosialisasikan suatu kebijakan, sebab di sepanjang proses, kita sudah bekerja sama dengan rumah tangga kita sendiri.  <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC, S.Ag., STL.<\/strong>, dosen teologi dogmatik dan filsafat di\nFakultas Filsafat, Unpar. Sarjana filsafat dan teologi Fakultas\nFilsafat, Unpar; Lisensiat Teologi Dogmatik <em>Katholieke Universiteit Leuven<\/em> (KUL)\nBelgia; Doktor Teologi Gereja <em>Radboud\nUniversiteit Nijmegen<\/em> (RUN) Belanda.\n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin jarang disadari, bahwa yang membedakan ekonomi dari ekologi, atau sebaliknya, adalah akhirannya. Mengapa \u2013nomos? Mengapa \u2013logos? Bahkan sebelum itu, keduanya menginduk pada oikos (\u201crumah tangga\u201d) yang sama: bumi tempat tinggal kita. Immanuel Kant (1720-1804) mengatakan, \u201cPikiran \u2026 harus mendekati alam supaya diajar olehnya\u201d. Aturan maupun konsep dari manusia harus belajar dari realitas yang kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":260,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258"}],"collection":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=258"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/260"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=258"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=258"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=258"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}