{"id":263,"date":"2020-02-24T03:36:43","date_gmt":"2020-02-24T03:36:43","guid":{"rendered":"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/?p=263"},"modified":"2020-04-28T01:29:50","modified_gmt":"2020-04-28T01:29:50","slug":"mengintip-pendidikan-di-finlandia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/2020\/02\/24\/mengintip-pendidikan-di-finlandia\/","title":{"rendered":"Mengintip Pendidikan di Finlandia"},"content":{"rendered":"\n<p>Tahun-tahun belakangan ini Finlandia menjadi bahan pembicaraan dunia. Negeri itu selalu berada di papan atas dalam <em>World Happiness Report<\/em>. Negeri itu juga selalu berada di papan atas dalam <em>Programme for International Student Assessment. <\/em>Negeri itu juga selalu di papan atas dalam <em>The Worldwide Educating for the Future Index. <\/em>Inspirasi apa yang dapat kita petik dari Finlandia?<\/p>\n\n\n\n<p>Saya sama sekali tidak bermaksud membanding-bandingkan Indonesia dengan Finlandia. Keadaan politik-ekonomi-sosial-budaya Indonesia berbeda dengan Finlandia yang berpenduduk sekitar lima setengah juta jiwa itu. Tetapi, barangkali ada inspirasi atau pelajaran yang dapat kita petik dari Finlandia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kebahagiaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>The World Happiness\nReport <\/em>(WHR), yang dipublikasikan\noleh <em>United Nations Sustainable Development Solutions Network<\/em>,merupakan hasil survei\nterhadap 156 negeri tentang sejauh mana warga negara mereka bahagia. Finlandia\nselalu berada di papan atas, bahkan selama dua tahun terakhir negeri itu berada\ndi posisi puncak sebagai negeri paling bahagia di dunia. Meik Wiking, CEO dari\nlembaga <em>think thank The Happiness Research Institute<\/em>\ndi Copenhagen, Denmark mengatakan bahwa lima negara Nordik yang berada di\nurutan atas dianggap telah melakukan sesuatu yang benar dalam menciptakan\nkondisi yang baik untuk kehidupan warganya. &#8220;Mereka sangat pandai\nmengonversikan kekayaan mereka menjadi kesejahteraan,&#8221; kata Meik seperti\ndikutip <em>The Guardian<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Survei tersebut, yang\ndilaksanakan oleh Gallup, menggunakan rata-rata tiga tahunan dari enam faktor:\npendapatan perkapita, dukungan sosial, usia harapan hidup, kebebasan untuk\nmenentukan pilihan hidup, kemurah-hatian, dan tingkat korupsi. Finlandia\nmemiliki skor yang bagus dalam semua faktor, terutama kemurahan hati (<em>generosity<\/em>).\nPenulis laporan mengatakan bahwa \u201c<em>helping others makes you feel better, but\nonly if you choose to do it<\/em>\u201d.Hampir\nsetengah orang-orang Finlandia berdonasi secara reguler untuk karitas dan\nhampir sepertiga mengatakan bahwa mereka menyediakan waktu untuk berkarya\nsecara sukarela untuk suatu karitas pada bulan lalu.<\/p>\n\n\n\n<p><em>The Happiness Research\nInstitute <\/em>menggarisbawahi\nbahwa Finlandia menjadi negeri paling bahagia walaupun pendapatan per-kapita\nmereka bukan yang paling tinggi. Kuncinya adalah jaring pengaman sosial (<em>social\nsafety net<\/em>) yang dikombinasikan dengan kebebasan pribadi (<em>personal\nfreedom<\/em>) dan keseimbangan kerja-hidup (<em>work-life balance<\/em>). Walaupun\norang Finlandia juga merasa khawatir terhadap perkembangan ekonomi global,\nmereka merasa nyaman dengan lingkungan mereka, <em>sense of community, <\/em>pelayanan\npublik, dan pendidikan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai bukti bahwa Anda\ntidak dapat membeli kebahagiaan, Amerika Serikat menempati peringkat ke-19\ndalam WHR, turun dari tahun sebelumnya. Ekonom Jeffrey Sachs, satu di antara\npenulis laporan, mengatakan bahwa keadaan kesehatan yang memburuk dan <em>social\ntrust <\/em>yang merosot terhadap pemerintah AS, membuat orang-orang Amerika\nkurang bahagia. Kenaikan pendapatan di AS di-<em>offset <\/em>oleh peningkatan\nkecanduan terhadap judi, penggunaan media sosial, video game, belanja, dan\nkonsumsi makanan kurang sehat yang menyebabkan ketidakbahagiaan dan bahkan\ndepresi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pendidikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak OECD\nmenyelenggarakan <em>Programme for International Student Assessment <\/em>(PISA)pada tahun 2000, survei\ntiga tahunan ini selalu menempatkan anak-anak Finlandia pada papan atas, baik\ndalam membaca, matematika, dan sains. Para pendidik dari berbagai belahan dunia\nmelakukan studi banding ke Finlandia untuk melihat keadaan sekolah-sekolah di\nsana. Apa yang membuat anak-anak Finlandia berkinerja relatif bagus?<\/p>\n\n\n\n<p>Mike Colagrossi (2018)\nberargumen bahwa hal-hal berikut ini antara lain yang mendasari kinerja\npendidikan Finlandia:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Tidak ada standar ujian<\/strong>. Semua siswa dinilai\noleh guru mereka. Guru-guru di sekolah memiliki otoritas dalam menilai siswa. Kementerian\nPendidikan melakukan survei terhadap kinerja siswa berbagai sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Tanggung jawab guru<\/strong>. Profesi guru sangat\ndihargai. Guru di semua jenjang harus berpendidikan minimum magister. Program\npendidikan guru merupakan yang paling selektif dibandingkan prodi-prodi lain di\nperguruan tinggi. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan\nprofesinya. Jika guru dinilai kurang bertanggung jawab maka kepala sekolah akan\nmelakukan tindakan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Kooperasi, bukan\nkompetisi<\/strong>. Lingkungan\nsekolah-sekolah bukanlah kompetisi. Tidak ada pemeringkatan siswa maupun guru.\nKooperasi merupakan norma.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u201cProgram\npendidikan guru merupakan yang paling selektif dibandingkan prodi-prodi lain di\nperguruan tinggi.\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Hal-hal dasar sebagai\nprioritas<\/strong>. Sejak dasawarsa\n1908-an para pendidik Finlandia memfokuskan pada hal-hal dasar sebagai\nprioritas: a) pendidikan hendaknya merupakan instrumen untuk menyeimbangkan\nketimpangan sosial; b) semua siswa menerima makan siang gratis dari sekolah; c)\nkemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan; d) konseling psikologis; e) bimbingan\nmasing-masing siswa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Wajib sekolah pada usia\ntujuh<\/strong>. Anak-anak\nFinlandia wajib masuk sekolah pada usia tujuh tahun. Sebelum usia tujuh tahun,\ntidak ada kewajiban bersekolah. Akan tetapi, pelayanan <em>daycare <\/em>dan taman\nkanak-kanak sangat bagus dan dapat diakses siapa saja walaupun tidak wajib. Wajib\nbelajar hanya sembilan tahun (dari usia 7 hingga 16). <\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Ada sekolah menengah\natas dan sekolah vokasi<\/strong>. Setelah wajib belajar sembilan tahun, siswa dapat melanjutkan ke sekolah\nmenengah atas (berorientasi akademik umum) atau ke sekolah vokasi (berorientasi\nvokasi). Setelah itu dapat melanjutkan ke universitas atau sekolah tinggi ilmu\nterapan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Sekolah dimulai sekitar\njam 09.00<\/strong>. Sekolah-sekolah\ndimulai antara jam 09.00 hingga 09.45, dan berakhir pada jam 14.00 hingga\n14.45. Jam istirahatnya pun cukup panjang. Hal ini membuat siswa merasa rileks\ndan dapat bertumbuh matang secara sosio-emosional.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Instruksi konsisten\ndari guru-guru yang sama. <\/strong>Siswa-siswa diajar oleh tim guru yang relatif sama selama enam tahun.\nDengan demikian, siswa-siswa memperoleh instruksi yang konsisten dari waktu ke\nwaktu, tidak dibingungkan. Guru-guru sangat memahami perkembangan siswa-siswa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Atmosfer yang lebih rileks<\/strong>. Pelajaran-pelajaran\ntidaklah berat, jumlahnya sedikit, tidak membebani.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u2013 Sedikit pekerjaan rumah.\n<\/strong>Menurut OECD,\nsiswa-siswa Finlandia mempunyai pekerjaan rumah yang paling sedikit\ndibandingkan negeri-negeri lain.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-265\"\/><figcaption>(Sumber: news.com.au)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Finlandia tidak serba\nsempurna, dan bukan tanpa kritik. Pemerintah Finlandia terus berupaya mencari\ncara-cara berinovasi dalam bidang pendidikan. Alhasil, dalam <em>The 2018 Worldwide\nEducating for Future Index <\/em>(WEFFI),yang ditulis oleh <em>The Economist <\/em>dan dipublikasikan pada tahun\n2019<em>, <\/em>Finlandia menempati posisi pertama. Sebelumnya, pada tahun 2016\nFinlandia meluncurkan eksperimen yang mewajibkan semua sekolah mengadopsi\nmetode pembelajaran kolaboratif berbasis fenomenon (<em>phenomenon-based learning<\/em>),\nyang bertujuan untuk mempersiapkan para siswa dalam menghadapi tantangan masa\ndepan secara lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p><em>WEFFI<\/em> menggarisbawahi bahwa:<\/p>\n\n\n\n<ul><li>kemakmuran bukanlah penentu dalam kecakapan-kecakapan masa depan (<em>future\nskills<\/em>);<\/li><li>tinjauan-tinjauan sangat dibutuhkan di tengah perubahan terus-menerus;<\/li><li>guru-guru harus terlibat dalam pembelajaran berkelanjutan (<em>continuous\nlearning<\/em>);<\/li><li>keanekaragaman dan toleransi hendaknya ditekankan sebagai nilai-nilai\nuniversal;<\/li><li>pendekatan-pendekatan yang kaku tidaklah cocok dengan pembelajaran <em>future\nskills.<\/em><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Apa yang terjadi di\nFinlandia tentu saja tidak dapat kita tiru mentah-mentah begitu saja. Tetapi,\ntidak ada salahnya kita belajar dari mereka, juga dari negeri-negeri lain yang\nmemiliki keadaan, pandangan, dan strategi berbeda. Bagimana menurut Anda? ***<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>P. Krismastono Soediro<\/em><\/strong><em>, Kepala Kantor\nYayasan Universitas Katolik Parahyangan, penulis sejumlah buku.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahun-tahun belakangan ini Finlandia menjadi bahan pembicaraan dunia. Negeri itu selalu berada di papan atas dalam World Happiness Report. Negeri itu juga selalu berada di papan atas dalam Programme for International Student Assessment. Negeri itu juga selalu di papan atas dalam The Worldwide Educating for the Future Index. Inspirasi apa yang dapat kita petik dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":23377,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263"}],"collection":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=263"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23378,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263\/revisions\/23378"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23377"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}