{"id":273,"date":"2020-02-25T02:37:28","date_gmt":"2020-02-25T02:37:28","guid":{"rendered":"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/?p=273"},"modified":"2020-04-28T01:27:51","modified_gmt":"2020-04-28T01:27:51","slug":"dinamika-usaha-dalam-ekonomi-kreatif-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/2020\/02\/25\/dinamika-usaha-dalam-ekonomi-kreatif-indonesia\/","title":{"rendered":"Dinamika Usaha dalam Ekonomi Kreatif Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Di awal bulan Maret 2019, saya dikejutkan oleh berita\nmengenai <em>marketplace<\/em> usaha kreatif\nyang berfokus pada kerajinan tangan lokal Indonesia, qlapa.com, resmi ditutup\npermanen. Alasan yang diberikan oleh qlapa.com pada akun <em>Instagram<\/em>-nya adalah Qlapa tidak bisa menjadi bisnis yang\nmenguntungkan dan berkelanjutan. Berdasarkan misinya untuk pemberdayaan perajin\nlokal Indonesia, Qlapa yang hampir 4 tahun beroperasi telah membantu penjualan\npara perajin lokal hingga puluhan miliar rupiah. Selain itu, Qlapa menyebutkan\nbahwa mereka telah berperan dalam mempromosikan produk-produk buatan tangan\npara perajin Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Klaim tersebut bukan tidak didasarkan dengan prestasi\nhasil kerja keras usaha mereka. Data dari <em>Daily\nSocial<\/em> (4 Maret 2019, https:\/\/dailysocial.id\/post\/qlapa-resmi-tutup), Qlapa\nberhasil memperoleh pendanaan seri A dari modal ventura <em>Aavishkaar Frontier Fund<\/em> (AFF) dan beberapa investor lain di <em>pre-series funding<\/em> maupun<em> angel investment<\/em>. Aplikasi Qlapa telah\nmendapatkan penghargaan \u201c<em>Hidden Gem<\/em>\u201d\noleh <em>Google Play<\/em> dan diberi\npenghargaan sebagai <em>startup<\/em> dengan\npertumbuhan paling menjanjikan menurut majalah <em>Forbes Asia<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai analisis, komentar, opini (baik positif\nmaupun negatif) timbul. Salah satu analisis yang diberikan oleh Kumparan maupun\n<em>Daily Social<\/em> menyatakan bahwa Qlapa\nkurang dapat bersaing dengan <em>marketplace<\/em>\nyang bersifat umum yang sudah menyediakan kolom khusus untuk perajin lokal.\nDari sisi penjual (\u201cpelapak\u201d), melalui komentar pada akun <em>Instagram<\/em> maupun <em>Facebook\nQlapa<\/em>, mereka selanjutnya berupaya untuk menggencarkan penjualan mereka\nmelalui kanal mereka masing-masing. Dari sisi pengguna atau pembeli, banyak\nyang menyayangkan tutupnya <em>marketplace<\/em>\nini dan tetap akan menggunaan produk-produk perajin lokal Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernyataan ini, didukung dengan ada atau tidaknya <em>marketplace<\/em> yang unik seperti qlapa.com,\nterbukti dengan adanya kecenderungan peningkatan minat masyarakat Indonesia\ndalam membeli produk kerajinan tangan lokal Indonesia. Berbagai jenis pameran\nproduk kerajinan tangan Indonesia kerap penuh dibanjiri pengunjung. Sebagai\ncontoh, di tahun 2018, berdasarkan laporan dari ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan <em>Handicraft<\/em> Indonesia), <em>Inacraft<\/em> yang merupakan pameran produk\nkerajinan tangan lokal terbesar di Indonesia telah menarik 169 ribu pengunjung\ndan pameran selama 5 hari ini menghasilkan nilai transaksi ritel sebesar hampir\n139,7 miliar rupiah dan dikunjungi oleh 1.056 pembeli dari luar negeri\n(https:\/\/asephi.com\/en\/inacraft-2018-facts-figures\/). Selain itu, tren\npeningkatan minat akan kerajinan tangan lokal ditunjukkan dengan semakin\nmaraknya bazar dan pameran produk kerajinan tangan, seperti <em>Brightspot Market<\/em>,<em> Pop Up Market<\/em>,<em> Sunday Market,<\/em>\ndan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah tren ini menunjukkan kecenderungan peningkatan\nminat pasar Indonesia (bahkan internasional) akan produk hasil ekonomi kreatif,\nkhususnya kerajinan tangan dan <em>fashion<\/em>.\nBagaimanakah sebenarnya kondisi ekonomi kreatif Indonesia saat ini?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ekonomi\nkreatif dan kontribusi dalam pembangunan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk konteks Indonesia, Ekonomi Kreatif didefinisikan sebagai perwujudan nilai tambah dari suatu ide atau gagasan kekayaan intelektual yang mengandung keorisinalan, lahir dari kreativitas intelektual manusia, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, serta warisan budaya (Peraturan Presiden RI No. 142\/2018, Pasal 1) dan para pelakunya adalah mereka yang melakukan aktivitas kreatif dan inovatif bersumber dari keintelektualan yang bernilai ekonomis dalam sektor ini. Ekonomi kreatif meliputi 16 subsektor, yaitu aplikasi dan <em>game developer<\/em>, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, <em>fashion<\/em>, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. Data dari survey BPS di tahun 2015 (Bekraf, 2016) menunjukkan bahwa persentase kontribusi terbesar di sektor ekonomi kreatif adalah dari kuliner (42,7%) disusul <em>fashion<\/em> (18%) dan kriya (kerajinan tangan, 15,7%). Sementara subsektor yang tumbuh paling pesat adalah desain komunikasi visual, musik, dan animasi video.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-8.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-277\"\/><figcaption>(a) Subsektor dengan kontribusi PDB terbesar<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-10.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-279\" width=\"244\" height=\"125\"\/><figcaption>(b) Tingkat pertumbuhan tertinggi<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Gambar 1. Tingkat\nkontribusi PDB dan pertumbuhan subsektor<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber Data: Bekraf (2016), Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif Kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik, hal. 5<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam laporannya, Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru\nIndonesia Menuju 2025 (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2014),\nekonomi kreatif diperkirakan dapat menyerap 10-11% tenaga kerja, dengan\npertumbuhan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,5-2% per tahun dan peningkatan\nproduktivitas tenaga kerja sebesar 3-4% per tahun. Selain itu, ekonomi kreatif\ndiperkirakan memberikan sumbangan terhadap PDB nasional sekitar 7-7,5% dan diperkirakan\ndapat berkontribusi terhadap penerimaan devisa dengan pertumbuhan sebesar\n2-2,5% per tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil survei yang dilakukan oleh Bekraf dan BPS\n(2016), pada tahun 2015, sektor ekonomi kreatif menyumbangkan 852 triliun\nrupiah terhadap PDB nasional (atau sebesar 7,38%). Dari kontribusi penyerapan\ntenaga kerja, dari total penduduk Indonesia yang bekerja (114,8 juta orang), 13,9%\nbekerja di sektor ekonomi kreatif. Selanjutnya, pekerja pertama kali (<em>new comer<\/em>) yang bekerja di sektor\nekonomi kreatif adalah 542 ribu dengan proporsi sebesar 21,59 persen terhadap\nseluruh <em>new comer <\/em>nasional. Hal ini\nmenunjukkan besarnya animo pekerja muda\/pekerja pertama kali di sektor ekonomi\nkreatif ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari struktur tenaga kerja, tenaga kerja yang bekerja\ndi sektor ekonomi kreatif didominasi oleh perempuan usia muda. Dibandingkan\ndengan struktur tenaga kerja Indonesia di tahun 2015, terdapat 54% pekerja\nperempuan (sementara secara umum, proporsi pekerja perempuan adalah 37%) dan\nterdapat 17,8% pekerja usia 15-24 tahun untuk sektor ekonomi kreatif (proporsi\npekerja usia muda atau usia 15-24 tahun secara umum adalah 13,8%). Kebanyakan\npekerja ekonomi kreatif perempuan melakukan usaha di subsektor <em>fashion<\/em>. Para pekerja di sektor ini\ncenderung bekerja secara formal dengan rata-rata jam kerja yang lebih tinggi\ndibandingkan dengan tenaga kerja di sektor lainnya.<br><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-7.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-276\"\/><figcaption> Gambar 2. Karakteristik tenaga kerja Indonesia versus tenaga kerja ekonomi kreatif <br> (Data diolah ulang dari Bekraf (2016), Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif Kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik, hal. 9 &amp; 11) <\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Hasil survei BPS dan Bekraf tersebut menunjukkan bahwa\ntarget capaian yang diprediksi dalam laporan 2014 ternyata terpenuhi.\nKontribusi PDB nasional dari terpenuhi dan penyerapan tenaga kerja malah di\natas prediksi. Selain itu, ekonomi kreatif mampu memberikan lapangan kerja yang\nlebih inklusif, khususnya bagi perempuan dan pekerja usia muda.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Peran ekosistem\nbagi para perajin dan pelaku usaha kreatif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bagi banyak perajin lokal, qlapa.com telah menjadi\nsalah satu kurator untuk mengevaluasi dan menilai kualitas produk mereka.\nMelalui Qlapa, para perajin kerajinan tangan seperti aksesoris dan perhiasan,\nalas kaki, alat bawa (tas dan dompet), alat dan perabot rumah tangga, furnitur,\nhiasan dan dekorasi, serta aksesoris lain diseleksi terlebih dahulu untuk\nkemudian menjadi salah satu pelaku usaha kreatif yang berhasil.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran <em>marketplace<\/em>\nsebagai kurator merupakan bagian dari peran ekosistem ekonomi kreatif secara\nlangsung. <em>Marketplace<\/em> yang merupakan\nperantara langsung para pelaku usaha kreatif dan menghubungkan mereka dengan\npasar menjadi dukungan perlu dan positif bagi perkembangan pelaku usaha kreatif.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran ekosistem dalam ekonomi kreatif bukan hanya\ndalam bentuk <em>marketplace<\/em>. Hub kreatif\ndan komunitas merupakan ekosistem penting lain dalam pengembangan dan penguatan\nekonomi kreatif.<em><br>\n<\/em><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-6.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-275\"\/><figcaption>(Sumber: https:\/\/ruangtuju.com\/venue\/rumah-sanur-creative-hub)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Rumah Sanur<em> Creative Hub<\/em> di Bali merupakan salah\nsatu ekosistem yang berperan positif mendukung pertumbuhan pelaku usaha di\nsektor ekonomi kreatif. Sebagai <em>hub<\/em>\nbagi para pelaku usaha kreatif, Rumah Sanur yang didirikan pada tahun 2015\nmenjadi ruang publik yang penting untuk tempat diskusi mengenai aspek sosial,\nbudaya, aspek&nbsp; global maupun kearifan\nlokal bagi para pelaku usaha kreatif sekaligus untuk masyarakat publik dan\npendukung ekonomi kreatif dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam\nperkembangannya, <em>Rumah Sanur Creative Hub<\/em>\nmemfasilitasi To~ko <em>Concept Store<\/em>.\nTo~ko yang berada di halaman Rumah Sanur ini menawarkan berbagai produk ramah\nlingkungan. To~ko menjadi rumah bagi lebih dari 150 mitra desain dan menjual produk\ndan merek yang dibuat oleh UKM dan desainer yang memiliki misi untuk mendorong praktik\nkonsumsi dan produksi yang berkelanjutan. To~ko<em> Concept Store<\/em> menggabungkan toko atau ritel dengan pengalaman, di\nmana proses pembelian memiliki makna yang berbeda dan melibatkan makna\nfilosofis. Pelanggan memiliki kesempatan tidak hanya untuk membeli produk fisik\ntetapi juga diberikan pengalaman emosi dan sentuhan indera dalam memahami pengalaman\nmenggunakan produk ramah lingkungan. To~ko <em>Concept\nStore<\/em> menawarkan gabungan produk yang dibuat oleh bisnis lokal kecil,\nseniman dan desainer muda. <em>Rumah Sanur\nCreative Hub<\/em> mengambil fungsi sebagai kurator untuk menjamin kesesuaian\nproduk dan misi To~ko. <br><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft\"><img src=\"http:\/\/unparpress.development.unpar.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/43\/2020\/02\/web-5.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-274\"\/><figcaption>(Sumber: https:\/\/gubug-wayang.com)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><em>Yensen Project<\/em> adalah komunitas didirikan pada 23 November 2004 oleh\naktivis sosial yang peduli terhadap lingkungan yang diketuai oleh Abah Novi.\nDimulai dengan misi sosial dalam bentuk pengobatan gratis, <em>Yensen Project<\/em> selanjutnya menginisiasi Museum Gubug Wayang pada 15\nAgustus 2015. Museum ini memiliki koleksi wayang atau boneka, yang tidak hanya\nmemberikan filosofi mendalam yang berlaku untuk kehidupan kontemporer tetapi\njuga menceritakan kisah seni yang mulai berkurang perannya di Indonesia maupun\nlokal Jawa Timur. Museum ini secara rutin mengelola serangkaian lokakarya untuk\nmenyampaikan keterampilan yang terlibat dalam melakukan boneka dan alat musik. <em>Yensen Project<\/em> tidak hanya bermaksud\nuntuk mempromosikan budaya tetapi juga untuk menarik lebih banyak penonton\ndengan menggabungkan drama dengan komedi. Tarian Barongsai mengambil bagian\ndari pertunjukan\nsebagai tarian penyambutan sebelum pertunjukan boneka. Pertunjukan boneka Potehi cukup\nmenantang karena kurangnya koleksi boneka dan sulit untuk menemukan\n&#8220;dalang&#8221; (master Potehi). Mereka sudah bekerja untuk berbagai\nkegiatan. Proyek ini berharap bahwa pemerintah dan masyarakat mengakui Potehi\nsebagai budaya Indonesia. <em>Yensen Project<\/em>\njuga mendukung pekerja seni tradisional lainnya, termasuk wayang kulit dan\ntopeng panji. <em>Yensen Project<\/em> mendukung\n13 komunitas di berbagai kota, yaitu Yogyakarta, Semarang, Solo, Tulungagung,\nJombang, Mojokerto, dan Malang. Komunitas ini telah berhasil mendorong\nmasyarakat untuk memproduksi produk seni dengan mengumpulkan dan mempromosikan produk\nmereka melalui berbagai acara dan pertunjukan seni.<\/p>\n\n\n\n<p>Catatan: tulisan ini merupakan <em>tribute<\/em> bagi sahabat yang mendadak dipanggil Allah Yang Mahakuasa,\nyang telah menyelesaikan tugasnya di dunia: Kumara \u201cKumy\u201d Sadhana. Mas Kumy\nadalah penggerak dan pelaku ekonomi kreatif yang penuh dedikasi dan memiliki\nperan yang besar dalam dunia seni dan kreatif. Teman yang tidak pernah merasa\nlelah \u2026 <em>rest in peace<\/em>, Mas Kumy (19\nNovember 2019). Tulisan mengenai Rumah Sanur <em>Creative Hub<\/em> dan <em>Yensen\nProject<\/em> adalah bagian dari hasil kajian beliau.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis: Catharina Badra Nawangpalupi<\/strong>, Dosen Teknik Industri, Universitas Katolik Parahyangan dan saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal <em>International Council for Small Business Indonesia<\/em>, dan Data Manager untuk <em>Global Entrepreneurship Monitor<\/em> (GEM) Indonesia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di awal bulan Maret 2019, saya dikejutkan oleh berita mengenai marketplace usaha kreatif yang berfokus pada kerajinan tangan lokal Indonesia, qlapa.com, resmi ditutup permanen. Alasan yang diberikan oleh qlapa.com pada akun Instagram-nya adalah Qlapa tidak bisa menjadi bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan. Berdasarkan misinya untuk pemberdayaan perajin lokal Indonesia, Qlapa yang hampir 4 tahun beroperasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":436,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273"}],"collection":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=273"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23374,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/273\/revisions\/23374"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=273"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=273"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/unparpress.unpar.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=273"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}